ketika kita dijemput

"ni, udah denger kabar belum ?', suara disebrang sana terdengar lirih.

"ada apa ?" , jawabku tidak sabar. "mak dang meninggal…..".

"Ya… Allah , kapan ?". "baru aja….", kembali terdengar suara disebrang bercampur dengan tangisan sedih.

"iya …. uni segera kerumah, sekarang ada dimana ?". "masih di rumah sakit, lagi nunggu ambulan ".

Segera kubereskan tas kantorku, bersiap untuk segera pulang. Makdang adalah kerabat dekatku yang kebetulan tinggal bersama anaknya di Bandung. Setengah berlari, aku meninggalkan ruangan. Makdang baru pulang haji dua bulan yang lalu. Masih terbayang senyumnya waktu pulang haji kemarin, menceritakan perjalanannya yang membuat ia selalu ingin kembali.

Dirumah duka,jenazah dibaringkan,belum dimandikan. Keluarga masih menyiapkan segala sesuatunya. Seperti lazimnya rumah yang duka, para tamu mulai datang, mengucapkan ikut berduka, berdoa sejenak didepan jenazah. Juga anak-anak almarhumah yang menangis termasuk aku. Semua tampak seperti kejadian duka pada umumnya.

Namun, karena yang meninggal adalah kerabat yang sangat dekat, baru kali ini aku cukup terlibat dalam memandikan jenazah dan mengkafaninya. Entah kenapa perasaanku kali ini begitu berbeda, bercampur antara sedih mengingat almarhum, juga sedih memikirkan apa jadinya ketika aku yang berbaring disana. Kembaliku menangis, entah menangisi almarhum atau diri sendiri…
Ketika ikut memandikan jenazah, ibu yang memimpin meminta gunting kuku, cutton bud dan beberapa kantong plastik. Karena kuku almarhum masih pendek-pendek, gunting kuku tidak digunakan.  Satu demi satu bagian tubuh dicuci sangat bersih, rambut diberi shampo,celah-celah jari tangan dan kaki dibersihkan dengan cutton bud. Kukembali teringat kalau aku harus selalu menjaga kuku-ku dan telingaku tetap bersih agar tidak terlalu merepotkan pemandi jenazah.

Selesai memandikan dengan waktu yang cukup lama, kami mengkafaninya. Satu demi satu kapas kuambil dan tempelkan diseluruh tubuh almarhum. Kembali kuteringat, jika aku yang berbaring disana..Ya…Allah, akan seperti ini aku juga…terbaring kaku ..seluruh tubuh tertutup kapas, untuk kemudian dibalut kafan..

Sebelum muka ditutup, anak-anak almarhumah kembali diingatkan untuk ikhlas melepas kepergian ibunda. Dan melarang airmata mereka untuk jatuh mengenai kain kafan. Semua mengangguk ikhlas … 

Sholat jenazah di pimpin langsung oleh putra tertua almarhumah. Sebelum memimpin shalat dia berceramah sedikit, meminta kesediaan hadirin di imami olehnya sebagai wujud tanggung jawab terhadap ibu tercinta. Ya… Allah ,semoga Hafidz atau Raihan bisa menjadi imam dalam shalat jenazah ku nanti…., semoga mereka memang pantas untuk menjadi imam….

Karena waktu sudah menjelang magrib, akhirnya diputuskan untuk dimakamkan setelah sholat magrib. Kami, para wanita dianjurkan untuk tidak ikut ke pemakaman mengingat hari begitu gelap mau hujan dan sudah menjelang malam. Namun dengan kekuatan hati, kami memutuskan untuk mengantarkan hingga kepemakaman.

Sayup-sayup suara azan isya mengiringi jalannya pemakaman di kampung dipingiran kota Bandung itu. Hanya ada satu petromax yang menerangi kami. Proses pemakaman dilangsungkan dengan cepat mengingat sudah malam hari.

Kembali aku bergidik membayangkan jika aku yang ada disana. Ya… Allah… terlihat lubang kubur yang gelap dan sempit dengan tanah yang becek sisa hujan. Kesanalah aku akan datang, tanpa membawa penerangan apa-apa. Hanya memakai beberapa meter kain kafan dan tubuh diganjal papan menghadap kiblat.

Berjalan kami sebagai rombongan yang terakhir pulang. Tanpa sadar ku lihat kebelakang. Ya.. Allah, 7 langkah kami pergi, akan datang malaikat Munkar dan Nakir menanyai kita dengan suaranya yang menggelegar bak petir.

Kembali ku menangis dalam hati, membayangkan kembali jika aku yang ada disana… aku benar-benar belum siap. Belumlah cukup bekalku nanti….

Benarlah, peristiwa kematian selalu memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa kitapun akan seperti itu …

Ya… Allah, aku takut sekali …ampuni hambamu ini …jadikan matiku husnul khatimah … amin

exxon,kacung dan perampok

Mengikuti salah satu milist , topik minggu ini benar-benar menarik. Beberapa anggota cukup kritis memberikan pandangan. Masalahnya?! tidak lain dan tak bukan urusan Blok Cepu.

Bagi para pecinta tanah air yang “right or wrong is my country ” jelas-jelas menyesalkan keputusan pemerintah yang memberikan kekuasaan operator Blok Cepu pada pihak asing. Sementara pihak yang pro berdalih tentang bobroknya pertamina, dana yang tidak ada, sampai urusan SDM yang tidak mumpuni.

Beberapa rekan dengan paradigma berpikirnya berpendapat bahwa ketidakbecusan pertamina sebagai salahsatu sarang KKN yang akuntabilitasnya diragukan, dan lebih tersedianya resource yang lebih dari cukup yang dimiliki oleh exxon, jelas-jelas merupakan nilai tambah baginya untuk dipilih menjadi operator Blok Cepu ini.

Namun ada tinjaun yang cukup mengelitik hatiku ketika membaca pendapat seorang rekan senior dengan idealismenya. Betapa begitu mudahnya kita menjadi kacung di negeri kita sendiri, betapa lapangan Blok Cepu bukanlah samasekali area yang sulit untuk dikelola karena tipikalnya yang hampir sama dengan Blok Tuban.

Tadinya aku pribadi berpendapat dengan komposisi pembagian keuntungan 85%-15%, Indonesia sudah begitu untung jauh seperti yang dikatakan oleh perwakilan Indonesia Rizal Malarangeng di SCTV beberapa waktu lalu. Ternyata dari informasi dimilist itu, komposisi tsb merupakan penghasilan bersih sementara cost recovery, sunk cost, production cost adalah beban yang ditanggung oleh Indonesia.

Jadi kalau ada yang kerja di blok cepu sebagai karyawan exxon lalu dapat training di LN, maka semua beban merupakan beban Indonesia sebagai cost recovery. Begitu pula gaji para bule beserta fasilitasnya yang aduhai, yang bekerja di sana merupakan cost recovery yang ditanggung kita.

Sementara pengajuan biaya yang diberikan oleh exxon adalah 4 kali lipat yang diajukan pertamina. Lalu siapa yang dapat menjamin benar/tidaknya production cost yang dilaporkan pihak exxon ? Kita memang sudah dirampok :( .Sementara para pihak dengan segala argumen pembenarannya tetap mendukung keputusan itu.

Rasanya lebih baik kita rela uang US$ 100 juta diambil bangsa sendiri dibandingkan US$400 diambil bangsa asing. Semuanya adalah persoalan politis bukan lagi masalah teknis. Dan masalah politis memang bukan domain kita, tapi 61 tahun kita merdeka, negara kita masih dirampok dan kita cuma kembali menjadi kacung.

Kasihan sekali negeri ku :(

« Previous entries