ketika kita dijemput
April 6, 2006 at 2:10 am (Renunganku)
"ni, udah denger kabar belum ?', suara disebrang sana terdengar lirih.
"ada apa ?" , jawabku tidak sabar. "mak dang meninggal…..".
"Ya… Allah , kapan ?". "baru aja….", kembali terdengar suara disebrang bercampur dengan tangisan sedih.
"iya …. uni segera kerumah, sekarang ada dimana ?". "masih di rumah sakit, lagi nunggu ambulan ".
Segera kubereskan tas kantorku, bersiap untuk segera pulang. Makdang adalah kerabat dekatku yang kebetulan tinggal bersama anaknya di Bandung. Setengah berlari, aku meninggalkan ruangan. Makdang baru pulang haji dua bulan yang lalu. Masih terbayang senyumnya waktu pulang haji kemarin, menceritakan perjalanannya yang membuat ia selalu ingin kembali.
Dirumah duka,jenazah dibaringkan,belum dimandikan. Keluarga masih menyiapkan segala sesuatunya. Seperti lazimnya rumah yang duka, para tamu mulai datang, mengucapkan ikut berduka, berdoa sejenak didepan jenazah. Juga anak-anak almarhumah yang menangis termasuk aku. Semua tampak seperti kejadian duka pada umumnya.
Namun, karena yang meninggal adalah kerabat yang sangat dekat, baru kali ini aku cukup terlibat dalam memandikan jenazah dan mengkafaninya. Entah kenapa perasaanku kali ini begitu berbeda, bercampur antara sedih mengingat almarhum, juga sedih memikirkan apa jadinya ketika aku yang berbaring disana. Kembaliku menangis, entah menangisi almarhum atau diri sendiri…
Ketika ikut memandikan jenazah, ibu yang memimpin meminta gunting kuku, cutton bud dan beberapa kantong plastik. Karena kuku almarhum masih pendek-pendek, gunting kuku tidak digunakan. Satu demi satu bagian tubuh dicuci sangat bersih, rambut diberi shampo,celah-celah jari tangan dan kaki dibersihkan dengan cutton bud. Kukembali teringat kalau aku harus selalu menjaga kuku-ku dan telingaku tetap bersih agar tidak terlalu merepotkan pemandi jenazah.
Selesai memandikan dengan waktu yang cukup lama, kami mengkafaninya. Satu demi satu kapas kuambil dan tempelkan diseluruh tubuh almarhum. Kembali kuteringat, jika aku yang berbaring disana..Ya…Allah, akan seperti ini aku juga…terbaring kaku ..seluruh tubuh tertutup kapas, untuk kemudian dibalut kafan..
Sebelum muka ditutup, anak-anak almarhumah kembali diingatkan untuk ikhlas melepas kepergian ibunda. Dan melarang airmata mereka untuk jatuh mengenai kain kafan. Semua mengangguk ikhlas …
Sholat jenazah di pimpin langsung oleh putra tertua almarhumah. Sebelum memimpin shalat dia berceramah sedikit, meminta kesediaan hadirin di imami olehnya sebagai wujud tanggung jawab terhadap ibu tercinta. Ya… Allah ,semoga Hafidz atau Raihan bisa menjadi imam dalam shalat jenazah ku nanti…., semoga mereka memang pantas untuk menjadi imam….
Karena waktu sudah menjelang magrib, akhirnya diputuskan untuk dimakamkan setelah sholat magrib. Kami, para wanita dianjurkan untuk tidak ikut ke pemakaman mengingat hari begitu gelap mau hujan dan sudah menjelang malam. Namun dengan kekuatan hati, kami memutuskan untuk mengantarkan hingga kepemakaman.
Sayup-sayup suara azan isya mengiringi jalannya pemakaman di kampung dipingiran kota Bandung itu. Hanya ada satu petromax yang menerangi kami. Proses pemakaman dilangsungkan dengan cepat mengingat sudah malam hari.
Kembali aku bergidik membayangkan jika aku yang ada disana. Ya… Allah… terlihat lubang kubur yang gelap dan sempit dengan tanah yang becek sisa hujan. Kesanalah aku akan datang, tanpa membawa penerangan apa-apa. Hanya memakai beberapa meter kain kafan dan tubuh diganjal papan menghadap kiblat.
Berjalan kami sebagai rombongan yang terakhir pulang. Tanpa sadar ku lihat kebelakang. Ya.. Allah, 7 langkah kami pergi, akan datang malaikat Munkar dan Nakir menanyai kita dengan suaranya yang menggelegar bak petir.
Kembali ku menangis dalam hati, membayangkan kembali jika aku yang ada disana… aku benar-benar belum siap. Belumlah cukup bekalku nanti….
Benarlah, peristiwa kematian selalu memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa kitapun akan seperti itu …
Ya… Allah, aku takut sekali …ampuni hambamu ini …jadikan matiku husnul khatimah … amin
